Harian umum Republika kemarin (Kamis 26/01/2012) memuat tulisan dua pakar ekonomi tentang Promosi Dinar-Dirham.
Dinar-Dirham, Mata Uang Yang Tak Mengenal Inflasi?
Saat ini banyak komunitas mempromosikan mata uang Dinar-Dirham. Anda sudah bisa membelanjakan koin tersebut di beberapa outlet khusus. Tentu saja anda belum bisa memperlakukannya seperti mata uang rupiah yang dapat digunakan secara bebas dimana-mana. Lagi pula mata uang ini denominasi masih terlalu besar sehingga sulit untuk menggantikan uang recehan.
Tidak Hanya Akibat dari Pencetakan Yang Berlebihan.
Terlepas dari apakah mata uang ini akan menjadi mata uang global atau tidak, beberapa pihak tampaknya terlalu bersemangat dalam melakukan promosi. Maksudnya mungkin baik, tetapi implikasinya justru mungkin sangat kontra produktif. Ada beberapa hal yang terlalu dibuat lebay sehingga masyarakat mendapatkan pemahaman yang salah. Promosi yang demikian tentunya kurang mendidik dan pada saatnya nanti akan timbul masalah bukti tidak sesuai dengan janji.
Salah satu contoh promosi yang salah arah adalah yang menyatakan bahwa Dinar-Dirham merupakan mata uang yang tak mengenal inflasi. Ungkapan yang populer untuk menunjukan hal ini adalah bahwa dulu waktu zaman Rosululloh harga seekor domba sekitar satu dinar dan sampai sekarangpun harganya tetap satu dinar. Silahkan anda percaya mengenai hal Ini. Tapi ilmu ekonomi akan berkata lain.
Mata uang yang anda pegang sekarang baik dalam rupiah, dollar ataupun yang lainnya disebut sebagai fiat money. Disebut demikian karena dicetak oleh otoritas moneter tanpa harus di backup dengan cadangan emas atau sejenisnya. Konsekuensinya, jika uang dicetak berlebihan maka akan timbul inflasi. Karena itu, kebijakan moneter seringkali menjadi sumber inflasi. Itu pula yang mendasari kenapa dewasa ini otoritas moneter diberi tugas mengendalikan inflasi. Dengan kata lain yang menjadi sumber inflasi diminta untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Kalau inflasi hanya disebabkan oleh kebijakan moneter maka Dinar-Dirham dapat mengatasinya dengan cespleng. Kalau Dinar-Dirham diadopsi sebagai mata uang resmi, maka otoritas moneter tidak lagi memiliki kemampuan untuk mencetak uang secara semena-mena. Dengan kata lain, kekuasaan mencetak uang menjadi hilang.
Tapi itu tidak berarti bahwa inflasi akan hilang selamanya dari muka bumi. Inflasi masih akan ada walaupun semua umat manusia menggunakan Dinar-Dirham. Untuk memahami ini anda perlu sedikit mengamati fenomena harga relatif emas terhadap barang dan jasa. Kenapa demikian?
Dinar adalah mata uang berbasis emas, sedangkan Dirharn adalah yang berbasis perak. Supaya mudah memahami, kita bahas Dinar sebagai contoh kasus.
Kalau Dinar dijadikan sebagai mata uang tunggal maka semua harga akan mengacu pada Dinar. Dengan kata lain semua harga akan didenominasi dengan emas. Gampangnya, berapa gram emas dibutuhkan untuk membeli kerbau, kambing, angsa, beras, ikan, terasi, gula dan lain sebagainya. Semua harga barang dan jasa direlatifkan dengan kuantitas emas.
Karena itu untuk menguji apakah akan terjadi inflasi atau tidak jika emas dijadikan mata uang adalah dengan cara menguji secara statistik apakah nilai relatif emas terhadap barang lainnya stabil atau tidak. Kalau harga relatifnya adalah tetap maka kita berkesimpulan bahwa inflasi tidak terjadi. Kalau harga relatif emas cenderung melemah, kita sebut inflasi. Ingat bahwa inflasi didefinisikan sebagai melemahnya daya beli uang.
Bagi yang sulit untuk memahami analisis regresi, mungkin penjelasan berikut ini akan membantu dalam memberikan pengertian mengapa inflasi akan tetap ada. Tentu anda masih ingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini kecepatan kenaikan harga emas lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang dan jasa umumnya. Itulah sebabnya mengapa gadai emas menjadi sangat populer. Orang berbondong-bondong berspekulasi dengan harga emas.
Bagaimana kalau harga semua barang dinyatakan dalam emas. Karena nilai emas mengalami kenaikan lebih tajam dibanding barang pada umumnya, maka jumlah emas yang harus dikorbankan untuk mendapatkan barang menjadi lebih sedikit.
Kalau emas menjadi mata uang maka anda dapat menyatakan fenomena ini sebagai berikut “dengan jumlah emas (uang) yang semakin sedikit, kita dapat membeli sejumlah barang dan jasa”. Artinya terjadi deflasi harga barang terhadap emas.
Beberapa bulan yang lalu, harga emas cenderung melemah sementara harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Untuk fenomena ini anda bisa menyatakannya sebagai “untuk mendapatkan jumlah barang yang sama, kita perlu mengorbankan lebih banyak emas”. Artinya terjadi inflasi harga barang terhadap emas.
Penjelasan di atas cukup memberikan bukti bahwa nilai emas terhadap barang dan jasa tidaklah konstan. Kalau tidak konstan berarti juga tidak stabil. Karena itu inflasi dan deflasi masih akan terjadi walaupun emas dijadikan mata uang.
Dalam ilmu ekonomi juga dijelaskan bahwa inflasi tidak hanya merupakan akibat dari pencetakan uang yang berlebihan. Faktor lainnya termasuk sistem pengupahan, kondisi infrastruktur, struktur pasar dan banyak hal lainnya. Tapi setidaknya kalau emas dijadikan sebagai mata uang, salah satu sumber inflasi akan hilang.
Mungkin cara promosi yang benar adalah adopsi Dinar-Dirham sebagai mata uang akan menghilangkan salah satu sumber inflasi tapi tidak meniadakan inflasi selamanya. Karena memang begitulah yang sesungguhnya.
Dr. Imam Sugema (Dosen IE FEM IPB)
M. Iqbal Irfany (Dosen IE-FEM IPB)
Sumber: republika.co.id
...
Dua cara menghasilkan uang gratis dari internet bersama Marketiva.com:
- Buka account, maka anda mendapatkan uang tunai $5, tradingkan sampai untung, maka keuntungan bisa anda tarik.
- Buka account, trading di desk virtual (uang mainan), apabila anda menjadi juara bulanan atau tahunan maka anda akan mendapat hadiah uang betulan sebesar $30 untuk master of the month, dan $500 untuk master of the year.
Anda tidak perlu memilih, kedua cara diatas bisa anda jalankan bersamaan untuk menghasilkan uang dari internet. Silakan buka account DiSiNi, dan lengkapi identifikasi dengan cara upload KTP atau Passport atau SIM anda agar nanti hadiahnya bisa anda tarik ke rekening bank atau ecurrency milik anda.
...
inflasi terhadap dinar, mata uang yang tak mengenal inflasi, Promosi Dinar-Dirham republika, republika 26 januari dinar, republika 26/01/2012, tulisan ahli ekonomi tentang dinar emas di harian republika, dua pakar ekonomi tentang promosi dinar-dirham republika kamis 26 jan 2012, inflasi terhadap dinar republika, sumber inflasi, republika dinar inflasi, nilai mata uang dinar sekarang 2012, terjadinya inflasi disebabkan mata uang kertas, promosi dinar-dirham, inflasi dinar, replubika 26 januari 2012 dinar dirham
Related posts:






Saya pernah mendengar Dr. Syafei Antonio ( sy tambahkan dengn bahasa saya ) berkata dakam islam ada mata uang yg disebut dinar, dirham dan fulus. Dinar adalah mata uang level tinggi, 1 dinar nilainya jutaan tepatnya 2,2 juta ( januari 2012). Dirham, mata uang menengah nilainya 65 ribuan. Dan fulus adalah recehan.
Sekarang ini, dinar dengan mudah dikonversi menjadi e-dinar. Uang ini untuk transaksi dengan jumlah banyak.
Kalao tuk beli terasi, bawang dll bisa pake fulus.
Sebaiknya, penulis artikel tukar pikiran dng Dr. Syafei Antonio atau Pak Prof. Muhaimin Iqbal agar diberikan pencerahan.
Sy juga mao tanya kpd ekonom tsb, apa itu inflasi?
Ahli ini bicara begini… ahli itu bicara begitu… jadi bingung kan mana yang mau dijadikan acuan?
Lebih baik kita belajar sejarah uang dari buku masa lalu uang dan masa depan dunia, setelah baca kita akan bisa menyimpulkan mana yang terbaik untuk kita.
silakan download gratis di http://goo.gl/1oyTS
berikut petikan isi buku:
Lebih Jauh Mengenai Misteri Emas…
Mungkin Anda sering mendengar bahwa emas paling pantas dijadikan uang karena dia memiliki nilai intrinsik. Dia tidak seperti kertas yang bisa diproduksi tanpa batas. Karena pertambahan jumlahnya lambat, maka emas selalu memiliki nilai. Menurut kami ini benar-benar omong kosong.
Tidak ada barang apapun di dunia yang memiliki nilai intrinsik! Semua barang bisa memiliki nilai hanya jika dia membawa manfaat. Bila barang itu tidak memiliki manfaat apapun bagi manusia, maka tidak peduli jumlahnya sesedikit apa, atau sesulit apa dia diperoleh, barang itu tetap tak bernilai!
Sejarah uang manusia adalah sebuah kisah perang antara D dan E di atas (D pembuat uang kertas, E pembuat uang emas), di mana D dan E masing-masing menganggap uang yang mereka produksilah yang seharusnya digunakan. D menganggap uang kertas (ataupun elektronik) lebih gampang diproduksi, dan karenanya lebih bermanfaat bagi manusia. Sedangkan E berargumentasi bahwa sepanjang sejarah manusia, belum pernah ada seorang (atau sebuah institusi) D manapun yang bisa dipercaya untuk tidak memanipulasi jumlah uang beredar demi kepentingan pribadi mereka sendiri, dan oleh sebab itu, manusia harus menggunakan emas ataupun perak (yang jumlah dan pertambahan produksinya terbatas) untuk dijadikan uang.
Namun, tentu saja, penggunaan emas (dan perak) sebagai uang juga memiliki kelemahan mereka sendiri. Tidak semua negara memiliki tambang emas, apakah demi memiliki uang dalam bentuk emas lantas mereka harus berhutang kepada negara lain untuk meminjam emas? Di samping itu, kekayaan datang dari produksi barang dan jasa manusia, bila kecepatan produksi barang dan jasa tidak bisa diikuti oleh pertambahan jumlah emas yang bisa ditambang, lantas bagaimana?
Bukan kapasitas kami untuk menilai sistem siapa yang lebih baik (D atau E). Namun, sekadar untuk jaga-jaga, kami sarankan Anda untuk mengalihkan sebagian uang Anda ke dalam bentuk emas.
Walaupun sistem keuangan dunia sudah meninggalkan standar emas sejak 1971, emas hari ini masih menjalani fungsi lain sebagai anti-uang (kertas). Setiap kali manusia mulai curiga terhadap apa yang dilakukan pemerintah (bank sentral) terhadap uang mereka, mereka akan selalu kembali ke emas, sebab jumlah emas memang tidak bisa dimanipulasi, dan sampai saat ini memang belum ada barang pengganti emas yang lebih jujur untuk dijadikan uang.
Dan cara ketiga untuk menghadapi inflasi adalah: “Simpanlah sebagian tabungan Anda dalam bentuk emas”.