Dialog Anak Bangsa Antara No Excuse! dan Pro Excuse

Excuse (dalih/ pembenaran) adalah salah satu penyakit paling berbahaya untuk bangsa ini. Sampai kapanpun kita tidak akan menjadi bangsa besar selama kita menemukan excuse untuk tidak menjadi bangsa besar. Silakan simak dialog imajiner anak bangsa pro excuse dan pro no excuse:

No Excuse!: Percayakah kita bisa menjadi bangsa besar?
Pro excuse!: Susah kayaknya, bangsa kita sudah kebanyakan hutang.

No Excuse!: Buktinya Inggris dan negara Eropa yang hancur dan banyak hutang akibat perang dunia II sudah maju sekarang! Jadi hutang tidak bisa jadi excuse.
Pro excuse!: Tapi mereka (Bangsa Eropa) kan sudah punya basis ilmu dan intelektual. Banyak intelektual.

Read more »

0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)
SociBook del.icio.us Digg Facebook Google Yahoo Buzz StumbleUpon

Bisnis dan Idealisme

Banyak yang mengatakan bisnis adalah bisnis. Jangan campur bisnis dengan idealisme atau moral. Jika idealisme atau moral campur tangan dalam bisnis, maka bisnis akan hancur. Benarkah demikian? Mungkin artikel ini menjawabnya.

Setelah bedah buku No Excuse! di radio SMART FM (95,90FM), saya sempat berbincang-bincang dengan produser di radio yang bermotto “The Spirit of Indonesia” itu. Awalnya hanya tukar fikiran dan sharing visi saja, tapi lama-kelamaan justru kita melihat banyak kesamaan visi atas yang kita perjuangkan, Indonesia yang lebih baik. Tapi ada yang membuat saya terhentak dan kaget (dalam arti positif).

Apa itu? Ternyata radio tersebut, menolak iklan rokok, minuman alkohol, dan iklan yang sensual.

Read more »

0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)
SociBook del.icio.us Digg Facebook Google Yahoo Buzz StumbleUpon

Itu Bukan Masalahku!

Seekor tikus panik melihat petani menyiapkan beberapa jebakan tikus di sawah. Ia begitu ketakutan dan segera berbegas mencari bantuan. Saat bertemu ayam ia bercerita.

“Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?” tanyanya pada Ayam.

“Wah itu bukan urusanku, mana aku tahu. Uruslah urusan masing-masing” jawab Ayam acuh.

Tikus masih ketakutan ia datang menemui kambing.

“Pak Tani memasang jebakan tikus, saya harus bagaimana?” tanyanya pada kambing.

“Bukankah benda itu dinamakan ‘jebakan tikus.’ Jadi apa urusannya denganku. Kalau itu jebakan kambing baru aku boleh khawatir,” jawab kambing seenaknya.

Tikus tetap ketakutan, tapi masih ada harapan, ia pergi menemui sapi.

Read more »

0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)
SociBook del.icio.us Digg Facebook Google Yahoo Buzz StumbleUpon